banner 728x250

banner 728x250

Tripika Bontobahari Sepakat: Dari Gazebo ke Aksi Nyata, Menuju Daerah Percontohan Zakat

banner 120x600
banner 468x60

Bulukumba, 23 September 2025, -Jasinfo.id – Suasana santai selepas santap siang di Gazebo Al-Mutahabbun tiba-tiba berubah menjadi ruang dialektika yang hangat dan penuh semangat. Kali ini, bukan proyek fisik yang menjadi bahan musyawarah Tripika Kecamatan Bontobahari, melainkan isu mendasar yang kerap luput dari pembahasan formal: *zakat*

 

banner 920x450

Hadir dalam diskusi tersebut Camat Bontobahari A. Arfhan Syukri, Kapolsek AKP Kasman, perwakilan Danramil, tokoh agama, penyuluh zakat, serta pimpinan pondok pesantren dan masjid. Suara-suara yang mengemuka mengarah pada satu kesimpulan: **potensi zakat Bontobahari sangat besar, namun belum tergarap maksimal.**

 

> “Kalau ratusan orang miskin mau disejahterakan, saya yakin cukup dari lingkungan kita sendiri. Potensi muzakki di Bontobahari sangat besar,” tegas Ustadz Muslim Bahar, Pimpinan Ponpes Al-Mutahabbun.

 

Suasana semakin menguat ketika H. Kardi, pengasuh Masjid Kapal Munzalan, menyampaikan pesan keras namun penuh kepedulian.

 

> “Zakat itu bukan urusan Baznas semata. Ini perintah Allah. Kalau tidak dizakatkan, haram dimakan. Bahkan bisa jadi sumber penyakit dan bencana,” ujarnya lantang.

 

Ia mengingatkan, zakat hanyalah 2,5 persen dari harta, namun dampaknya sangat besar bagi keberkahan dan kelangsungan hidup masyarakat.

 

Kapolsek Bontobahari, AKP Kasman, yang baru menjabat empat bulan, menunjukkan dukungan penuh. Ia bahkan menyatakan kesiapannya untuk diaudit zakat oleh pihak yang kompeten.

 

> “Silakan datang ke saya, kita hitung bersama. Biar semua bersih dan suci,” ucapnya, disambut senyum Camat Arfhan.

 

Namun demikian, tantangan di lapangan tidak bisa diabaikan. Kepala KUA Bontobahari, H. Amri Syam, menyampaikan keprihatinannya atas rendahnya tingkat partisipasi dalam kegiatan zakat.

 

> “Kami sudah gelar ceramah zakat bersama Baznas pada 12 September lalu. Tapi yang hadir hanya sebagian kecil dari undangan yang disebar,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pengetahuan tentang zakat masih belum merata, sehingga tugas para penyuluh adalah terus mengedukasi masyarakat tanpa kenal lelah.

 

Meski begitu, semangat tak padam. H. Kardi langsung mengusulkan langkah konkret:

 

> “Tripika sepakat saja dulu untuk aksi nyata. Konsumsinya, biar Masjid Kapal Munzalan yang tanggung,” ujarnya, yang langsung diamini peserta diskusi.

 

Rencana kolaborasi antara Tripika dan tokoh agama dalam bentuk **Kampanye Sadar Zakat** pun mulai digagas, dengan waktu dan tempat yang akan ditentukan kemudian.

 

Sementara itu, Ustadz Muslim Bahar menegaskan bahwa **Bontobahari layak menjadi daerah percontohan zakat di Kabupaten Bulukumba.**

 

> “Masjid Al-Mutahabbun dibangun murni dari donasi masyarakat. Artinya, dermawan itu ada. Tinggal bagaimana kita dorong mereka untuk juga menunaikan zakatnya,” ujarnya optimis.

 

Penyuluh zakat Abd. Halim Amsur melaporkan bahwa seluruh UPZ tingkat desa/kelurahan di Bontobahari telah terbentuk resmi hingga tahun 2030. Ketua UPZ Kecamatan, Pirmansyah, menyebutkan terdapat **85 masjid aktif** di wilayah ini—indikator kuat potensi zakat, infak, dan sedekah (ziswaf) yang bisa digali lebih dalam.

 

Diskusi ini ditutup dengan sebuah pernyataan penting: **zakat sejajar dengan shalat** sebagai rukun Islam. Mengabaikannya bukan hanya kelalaian, tapi bisa berdampak pada integritas keislaman seseorang.

 

> “Cepat atau lambat, kalau tidak berzakat, tamatlah dirimu,” pungkas H. Kardi.

 

*Editor: Ridho Ridwan

banner 728x90
banner 728x90
banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *